Selasa, 14 Mei 2013

Memori Kecil



Dihari minggu, tempat ini selalu ramai dikunjungi orang-orang yang ingin membelanjakan uangnya untuk membeli sesuatu yang mereka butuhkan. Tempat ini menjual berbagai barang kebutuhan primer dan sekunder, mulai dari makanan, minuman, pakaian, sepatu, tas, barang elektronik dan masih banyak lagi. Tempat ini sering dikenal Pasar Semda.
Begitu lah sebutan orang-orang yang sering datang ke pasar tersebut. Pasar ini dikenal dengan pasar Semda, karena dipasar ini hampir semua barang ada. Semda  sendiri singkatan dari “semua ada”. Orang-orang dari berbagai kalangan, baik itu para orang tua, pelajar, karyawan, pegawai negeri, bahkan yang pengangguran sekalipun sering mengunjungi pasar ini, entah itu hanya bermain atau benar-benar berbelanja. Pasar Semda bertempat di Jakarta Selatan, pasar ini tidak begitu jauh dari rumah Ima.
Ima adalah seorang siswi di SMA Negeri 22 Jakarta, saat ini Ima duduk dikelas XI dan sangat aktif diekstrakurikuler Pramuka. Seperti biasa, Ima juga suka mengunjungi pasar Semda, kadang dia berbelanja, kadang juga hanya untuk melihat-lihat atau bermain saja.

 “Mamah, Ima ijin pergi ke Pasar Semda ya, assalamualaikum?” Ucap Ima sambil mencium tangan mamahnya.
 “Wa’alaikum salam. Hati-hati ya sayang.”
 “Baik mah.”

            Ima pun pergi menggunakan motor matik kesayangannya menuju pasar Semda. Sambil mengendarai motor, Ima mengingat-ingat barang-barang yang ingin dibelinya. “Memori microSD dan flashdisk”. Ima terus mengulang-ulang sampai ia tiba di pasar Semda.
Sebenarnya ia sudah mempunyai flashdisk, namun kapasitas memorinya kecil, sedangkan memori belum ia punyai.
            Saat tiba di pasar, Ima mencari-cari tempat parkir yang menurutnya cukup aman, karena pasar Semda juga terkenal kurang aman, Oleh karenanya kita harus senantiasa waspada. Waspadalah-waspadalah!
***
Para pedagang berjejer dari ujung keujung, dan semua dipenuhi oleh orang-orang yang mengunjungi pasar tersebut.
 “Sebaiknya saya survei barang dan harga dulu, siapa tau saja barang-barang tersebut lebih murah di tempat lain”. Gumam Ima dalam hati.
***
            Ima mulai mengunjungi satu persatu stand yang menjual barang yang dicarinya. Karena ia hanya membawa uang sedikit, maka ia memutuskan untuk membeli memori microSD terlebih dahulu, karena menurutnya itu yang lebih ia butuhkan dibandingkan dengan flashdisk.

 “Pak boleh saya lihat memori microSD yang 16 Giga? Berapa harganya Pak?”.
Pertanyaan itu lah yang selalu ia ucapakan pada setiap penjual barang yang dicarinya.

***
Beralih ke tempat parkir. Disana ada seorang pemuda tampan yang hendak memarkirkan mobilnya. Pemuda  itu bernama Rizki, ia seorang siswa SMA Negeri 52 Jakarta, dan saat ini duduk di kelas XI. Dihari Minggu Rizki biasanya suka mengunjungi pasar Semda, dan tidak seperti biasanya, saat ini ia memakai mobil ke pasar Semda. Saat Rizki memarkirkan mobil, Karena tergesa-gesa secara tidak sengaja mobilnya menabrak spakbor bagian depan motor metik, sampai-sampai spakbornya patah.

“Astagfirullah, aduh kenapa bisa nabrak motor sih, patah lagi, ini motor siapa?”. Ucap Rizki.

Motor  yang ditabrak mobil rizki adalah motor Ima, tapi Rizki tidak mengetahuinya. Karena tidak mengetahui pemilik motor tersebut, Rizki pun menulis pesan dikertas, dan menempelkannya pada motor yang ia tabrak. Isi pesan Rizki, “Maaf saya tidak sengaja menabrak motor Anda, tapi saya akan bertanggung jawab untuk mengganti biaya kerusakannya. Silahkan hubungi saya (085225299+++).
Dengan perasaan khawatir karena telah melakukan kesalahan, Rizki pergi menuju pasar. Rizki hendak membeli memori microSD untuk Hpnya. Sesampainya ditempat tujuan, Rizki mulai mengincar sebuah stand penjualan barang-barang elektronik yang menjadi langganannnya.

“Pak, saya butuh memori buat Hp, yang 32 Giga?” Ucap Rizki pada penjual.
 “Pilih saja nak disana”. Jawab penjual Sambil menunjuk kesamping kanan Rizki.”

            Saat Rizki hendak mengambil barang tersebut, secara tiba-tiba barang yang diincarnya sudah diambil oleh orang lain. Orang tersebut tidak lain adalah Ima.

“Pak, yang ini berapa harganya?”. Tanya Ima sambil menunjukan barang pada penjual.
“Dua ratus ribu saja nak. itu tinggal satu lagi.” Seru penjual.
“Maaf mba, itu mau saya beli!” Seru Rizki sambil menunjuk barang yang dipegang Ima.
            Ima pun menoleh pada orang yang berbicara barusan padanya. Ia begitu kagett saat orang yang berbicara itu ternyata seorang pemuda tampan dan kulitnya begitu putih mulus.
“Oh iya, silahkan.” ucap Ima Sambil menyerahkannya pada Rizki. Ima pun bergumam dalam hatinya. “ Duh murah sih, Cuma dua ratus ribu, uangnya kurang, beli yang 16 Giga saja deh.
            Ima akhirnya membeli memori yang 16 Giga, sedangkan Rizki jadi membeli memori yang 32 Giga. Saat Ima menuju tempat parkir, ditengah perjalanan karena tidak hati-hati, Ima tersenggol bagian belakang mobil. Ternyata mobil tersebut adalah mobil Rizki. Ima terjatuh sampai barang bawaannya terlepas dari tangannya. Rizki pun keluar untuk membantu Ima. Ia menjatuhkan kantong kresek yang berisi memori, hendak membantu Ima berdiri. Karena merasa bersalah, Rizki meminta maaf pada Ima. Sebenarnya Ima tidak mengalami luka yang serius, namun Rizki hendak membawa Ima kedokter. Ima menolak, karena ia merasa dirinya tidak terluka. Rizki pun memberi Ima kartu nama, kalau-kalau Ima meminta pertanggung jawaban akibat kecelakaan tersebut. Mereka berdua pergi begitu saja tanpa berkenalan terlebih dahulu.
***
Ditempat parkir motor Ima
 “Astagfirullah, apa yang terjadi pada motor ku ini?”. Ucap Ima sambil terkaget-kaget.
Lalu mata Ima tertuju pada secarik kertas yang tertempel pada jok motor Ima. Dengan serius Ima membaca tiap kalimat yang tertulis pada kertas itu. Dengan sedikit rasa kesal Ima pun tidak lupa memcatat nomor yang ada pada kertas itu.
***
Setiba dirumah, Ima membuka kantong kresek yang berisi memori yang telah dibelinya. Saat ia hendak mencobanya.
“Lah ko memorinya jadi 32 Giga.” Ucap Ima dengan ekspresi kagetnya.
            Ternyata barang Ima dan Rizki tertukar saat insiden mobil Rizki menabrak Ima. Ima langsung berfikir pada kejadian dipasar, saat ia dibantu Rizki berdiri dan disana mereka membawa kantong kresek yang sama.
***
Ditempat lain, yaitu dirumah Rizki, Rizki masih menunggu-nunggu telepon atau sms dari pemilik motor yang ia tabrak. Ia masih khawatir, sampai-sampai Ia belum membuka kantong kresek yang berisi memori, dan Rizki juga belum tahu bahwa memori yang dibelinya tertukar dengan memori yang dibeli Ima.
“Kenapa belum menghubungi juga, apa dia tidak merasa rugi ya?”. Tanya Rizki pada dirinya sendiri sambil memutar-mutar Hp miliknya.
Tiba-tiba saja Hp Rizki berbunyi. Rizki kaget, karena nomor yang menghubungi tidak ia kenal.
“Mungkinkah ini pemilik motor itu?”. Tanya Rizki dalam hati sambil menekan tombol jawab pada Hpnya.
***
“Assalmu’alaikum.” Ucap Ima
“Wailakumsalam, maaf ini dengan siapa ya?” Tanya Rizki
“Saya Ima, saya orang yang tersenggol mobil Kamu saat di Pasar tadi” . Serunya.
“Iya, apa kamu merasa ada yang luka? Bagaiman kalau kamu pergi kedokter? Nanti saya yang akan bertanggung jawab.” Seru Rizki dengan panjang lebar.
“Alhamdulillah saya tidak apa-apa. Maksud saya menelpon kamu, karena memori kita tertukar, apakah kamu sudah tahu?” Tanya Ima sambil memegang memori Rizki.
“Oh begitu, sebentar ya saya lihat dulu”. Rizki pun membuka kantong kreseknya. dan ternyata memorinya tersebut benar tertukar.
“Bagaimana?” Tanya Ima dengan mengerutkan alis.
“Sepertinya benar, punya saya 32 Giga, tapi yang disini 16 Giga. Apa itu punya kamu?”. Tanya Rizki.
“Iya benar. Lalu bagaimana?” Tanya Ima pada Rizki.
“Bisakah kita ketemu?” Pinta Rizki.

            Ima sejenak berfikir, hari ini dia tidak bisa keluar, karena sudah mendapat tugas dari mamahnya untuk menjaga rumah. Kebutulan mamah Ima sedang pergi kerumah kakaknya.

“Boleh saja, tapi saya sedang menjaga rumah, bisakah kita bertemu dirumah saya saja?” Pintanya.

“Iya tidak apa-apa. Saya sekarang menuju rumah kamu. Alamatnya dimana ya?” Tanya Rizki sambil menyiapkan alat tulis hendak mencatat alamat rumah Ima. “Baik terima kasih”. Ucap Rizki sambil menutup balpoin.

            Rizki langsung menuju rumah Ima. Sesampainya didepan rumah Ima, Rizki kaget saat melihat motor yang ia tabrak terparkir digarasi rumah Ima.

“Assalamu’alaikum”. Ucap Rizki sambil mengetuk pintu rumah Ima.
“Wa’alikumsalam”. Jawab Ima sambil mebuka pintu rumahnya. “Silahkan masuk”. Ajak Ima pada Rizki.
            Ima begitu senang karena ada seorang pemuda tampan yang mengunjungi rumahnya.
“Iya terimakasih, tapi sepertinya saya tidak lama, karena takut keburu hujan”. Seru Rizki dengan ekspresi sedikit kecewa karena tidak bisa berlama-lama.
“Oh begitu, kalau begitu saya ambil memorinya dulu ya.” Seru Ima sambil masuk kerumahnya.
            Diluar Rizki masih melihat-lihat motor yang terparkir didepan rumah Ima.
“Ini memorinya”. Ucap Ima sambil menyodorkan kantong kresek.
“Terimakasih sudah mau mengembalikannya. Ini milik mu”. Ucap Rizki sambil menyodorkan kantong kresek.
Dengan sengaja Rizki melirik pada motor Ima, Rizki bertanya. “Apakah motor itu milik mu?” Tanyanya.
“Iya, memangnya kenapa? Aneh ya spakbornya? sepertinya tadi ada yang menabrak motor saya saat diparkiran” Ucap Ima.
“Sebenarnya motor kamu itu tertabrak mobil saya”. Ucap Rizki dengan nada bersalahnya.
“Apa? Jadi kamu juga menabrak motor saya” Ucap Ima dengan nada kagetnya.
“Mohon maaf sebelumnya, tapi saya siap untuk memperbaikinya. Bagaimana kalo besok saya bawa motor kamu ke bengkel.” Tanyanya pada Ima.
“Baik lah, besok kamu boleh memperbaikinya. Hubungi saja saya besok.”. Ucap Ima pada Rizki.
“Iya, kalau begitu. saya pamit pulang”.
Saat Rizki melangkahkan kakinya, ia berbalik kembali.
“Maaf, sebelumnya kita belum kenalan. Saya Rizki” Ucapnya sambil menyodorkan tangan pada Ima.
“Oh iya, saya Ima”. Ucapnya dengan menyodorkan tangan, hendak berjabat tangan dengan Rizki.
            Rizki pun pergi meninggalkan rumah Ima. Dijalan Rizki masih terbayang-bayang sikap Ima yang begitu baiknya.
“Ternyata masih ada juga dijaman ini orang yang jujur untuk mengembalikan barang orang lain”. Gumam Rizki dalam hati.
***
            Ditempat lain, Ima duduk didepan TV, namun ia masih terbayang-bayang saat Rizki membantunya berdiri, dan saat bersalaman dengan Rizki.
***
            Bagaimana kelanjutan cerita ini? Apakah mereka berdua saling kagum satu sama lain. Entah lah, yang jelas dari cerita diatas, kita dapat mengambil banyak hikmah, mulai dari nilai kejujuran, tanggung  jawab, kepedulian, keikhlasan. dan masih banyak lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar