Dihari minggu, tempat ini selalu ramai
dikunjungi orang-orang yang ingin membelanjakan uangnya untuk membeli sesuatu
yang mereka butuhkan. Tempat ini menjual berbagai barang kebutuhan primer dan
sekunder, mulai dari makanan, minuman, pakaian, sepatu, tas, barang elektronik
dan masih banyak lagi. Tempat ini sering dikenal Pasar Semda.
Begitu lah sebutan orang-orang yang
sering datang ke pasar tersebut. Pasar ini dikenal dengan pasar Semda, karena
dipasar ini hampir semua barang ada. Semda
sendiri singkatan dari “semua ada”. Orang-orang dari berbagai
kalangan, baik itu para orang tua, pelajar, karyawan, pegawai negeri, bahkan
yang pengangguran sekalipun sering mengunjungi pasar ini, entah itu hanya
bermain atau benar-benar berbelanja. Pasar Semda bertempat di Jakarta Selatan,
pasar ini tidak begitu jauh dari rumah Ima.
Ima adalah seorang siswi di SMA Negeri 22
Jakarta, saat ini Ima duduk dikelas XI dan sangat aktif diekstrakurikuler
Pramuka. Seperti biasa, Ima juga suka mengunjungi pasar Semda, kadang dia
berbelanja, kadang juga hanya untuk melihat-lihat atau bermain saja.
“Mamah, Ima
ijin pergi ke Pasar Semda ya, assalamualaikum?” Ucap Ima sambil mencium tangan
mamahnya.
“Wa’alaikum
salam. Hati-hati ya sayang.”
“Baik mah.”
Ima
pun pergi menggunakan motor matik kesayangannya menuju pasar Semda. Sambil
mengendarai motor, Ima mengingat-ingat barang-barang yang ingin dibelinya. “Memori microSD dan flashdisk”. Ima
terus mengulang-ulang sampai ia tiba di pasar Semda.
Sebenarnya ia sudah mempunyai flashdisk,
namun kapasitas memorinya kecil, sedangkan memori belum ia punyai.
Saat tiba di pasar, Ima mencari-cari
tempat parkir yang menurutnya cukup aman, karena pasar Semda juga terkenal
kurang aman, Oleh karenanya kita harus senantiasa waspada.
Waspadalah-waspadalah!
***
Para pedagang berjejer dari ujung
keujung, dan semua dipenuhi oleh orang-orang yang mengunjungi pasar tersebut.
“Sebaiknya saya survei barang dan harga dulu,
siapa tau saja barang-barang tersebut lebih murah di tempat lain”. Gumam Ima
dalam hati.
***
Ima
mulai mengunjungi satu persatu stand yang menjual barang yang dicarinya. Karena
ia hanya membawa uang sedikit, maka ia memutuskan untuk membeli memori microSD
terlebih dahulu, karena menurutnya itu yang lebih ia butuhkan dibandingkan
dengan flashdisk.
“Pak boleh saya lihat memori microSD yang 16
Giga? Berapa harganya Pak?”.
Pertanyaan
itu lah yang selalu ia ucapakan pada setiap penjual barang yang dicarinya.
***
Beralih
ke tempat parkir. Disana ada seorang pemuda tampan yang hendak memarkirkan
mobilnya. Pemuda itu bernama Rizki, ia
seorang siswa SMA Negeri 52 Jakarta, dan saat ini duduk di kelas XI. Dihari
Minggu Rizki biasanya suka mengunjungi pasar Semda, dan tidak seperti biasanya,
saat ini ia memakai mobil ke pasar Semda. Saat Rizki memarkirkan mobil, Karena
tergesa-gesa secara tidak sengaja mobilnya menabrak spakbor bagian depan motor
metik, sampai-sampai spakbornya patah.
“Astagfirullah, aduh kenapa bisa
nabrak motor sih, patah lagi, ini motor siapa?”. Ucap Rizki.
Motor yang
ditabrak mobil rizki adalah motor Ima, tapi Rizki tidak mengetahuinya. Karena
tidak mengetahui pemilik motor tersebut, Rizki pun menulis pesan dikertas, dan
menempelkannya pada motor yang ia tabrak. Isi pesan Rizki, “Maaf saya tidak sengaja menabrak motor Anda,
tapi saya akan bertanggung jawab untuk mengganti biaya kerusakannya. Silahkan
hubungi saya (085225299+++).
Dengan
perasaan khawatir karena telah melakukan kesalahan, Rizki pergi menuju pasar.
Rizki hendak membeli memori microSD untuk Hpnya. Sesampainya ditempat tujuan,
Rizki mulai mengincar sebuah stand penjualan barang-barang elektronik yang
menjadi langganannnya.
“Pak,
saya butuh memori buat Hp, yang 32 Giga?” Ucap Rizki pada penjual.
“Pilih saja nak disana”. Jawab penjual Sambil
menunjuk kesamping kanan Rizki.”
Saat
Rizki hendak mengambil barang tersebut, secara tiba-tiba barang yang diincarnya
sudah diambil oleh orang lain. Orang tersebut tidak lain adalah Ima.
“Pak,
yang ini berapa harganya?”. Tanya Ima sambil menunjukan barang pada penjual.
“Dua
ratus ribu saja nak. itu tinggal satu lagi.” Seru penjual.
“Maaf
mba, itu mau saya beli!” Seru Rizki sambil menunjuk barang yang dipegang Ima.
Ima pun menoleh pada orang yang
berbicara barusan padanya. Ia begitu kagett saat orang yang berbicara itu
ternyata seorang pemuda tampan dan kulitnya begitu putih mulus.
“Oh
iya, silahkan.” ucap Ima Sambil menyerahkannya pada Rizki. Ima pun bergumam
dalam hatinya. “ Duh murah sih, Cuma dua
ratus ribu, uangnya kurang, beli yang 16 Giga saja deh.”
Ima
akhirnya membeli memori yang 16 Giga, sedangkan Rizki jadi membeli memori yang
32 Giga. Saat Ima menuju tempat parkir, ditengah perjalanan karena tidak
hati-hati, Ima tersenggol bagian belakang mobil. Ternyata mobil tersebut adalah
mobil Rizki. Ima terjatuh sampai barang bawaannya terlepas dari tangannya.
Rizki pun keluar untuk membantu Ima. Ia menjatuhkan kantong kresek yang berisi
memori, hendak membantu Ima berdiri. Karena merasa bersalah, Rizki meminta maaf
pada Ima. Sebenarnya Ima tidak mengalami luka yang serius, namun Rizki hendak
membawa Ima kedokter. Ima menolak, karena ia merasa dirinya tidak terluka. Rizki
pun memberi Ima kartu nama, kalau-kalau Ima meminta pertanggung jawaban akibat
kecelakaan tersebut. Mereka berdua pergi begitu saja tanpa berkenalan terlebih
dahulu.
***
Ditempat parkir motor Ima
“Astagfirullah, apa yang terjadi pada motor ku
ini?”. Ucap Ima sambil terkaget-kaget.
Lalu mata Ima tertuju pada secarik kertas yang
tertempel pada jok motor Ima. Dengan serius Ima membaca tiap kalimat yang
tertulis pada kertas itu. Dengan sedikit rasa kesal Ima pun tidak lupa memcatat
nomor yang ada pada kertas itu.
***
Setiba dirumah, Ima membuka kantong kresek yang
berisi memori yang telah dibelinya. Saat ia hendak mencobanya.
“Lah
ko memorinya jadi 32 Giga.” Ucap Ima dengan ekspresi kagetnya.
Ternyata
barang Ima dan Rizki tertukar saat insiden mobil Rizki menabrak Ima. Ima
langsung berfikir pada kejadian dipasar, saat ia dibantu Rizki berdiri dan
disana mereka membawa kantong kresek yang sama.
***
Ditempat lain, yaitu dirumah Rizki, Rizki masih
menunggu-nunggu telepon atau sms dari pemilik motor yang ia tabrak. Ia masih
khawatir, sampai-sampai Ia belum membuka kantong kresek yang berisi memori, dan
Rizki juga belum tahu bahwa memori yang dibelinya tertukar dengan memori yang
dibeli Ima.
“Kenapa
belum menghubungi juga, apa dia tidak merasa rugi ya?”. Tanya Rizki pada
dirinya sendiri sambil memutar-mutar Hp miliknya.
Tiba-tiba saja Hp Rizki berbunyi. Rizki kaget,
karena nomor yang menghubungi tidak ia kenal.
“Mungkinkah ini pemilik motor
itu?”. Tanya Rizki dalam hati sambil menekan tombol jawab pada Hpnya.
***
“Assalmu’alaikum.”
Ucap Ima
“Wailakumsalam,
maaf ini dengan siapa ya?” Tanya Rizki
“Saya
Ima, saya orang yang tersenggol mobil Kamu saat di Pasar tadi” . Serunya.
“Iya,
apa kamu merasa ada yang luka? Bagaiman kalau kamu pergi kedokter? Nanti saya
yang akan bertanggung jawab.” Seru Rizki dengan panjang lebar.
“Alhamdulillah
saya tidak apa-apa. Maksud saya menelpon kamu, karena memori kita tertukar,
apakah kamu sudah tahu?” Tanya Ima sambil memegang memori Rizki.
“Oh
begitu, sebentar ya saya lihat dulu”. Rizki pun membuka kantong kreseknya. dan
ternyata memorinya tersebut benar tertukar.
“Bagaimana?”
Tanya Ima dengan mengerutkan alis.
“Sepertinya
benar, punya saya 32 Giga, tapi yang disini 16 Giga. Apa itu punya kamu?”.
Tanya Rizki.
“Iya
benar. Lalu bagaimana?” Tanya Ima pada Rizki.
“Bisakah
kita ketemu?” Pinta Rizki.
Ima
sejenak berfikir, hari ini dia tidak bisa keluar, karena sudah mendapat tugas
dari mamahnya untuk menjaga rumah. Kebutulan mamah Ima sedang pergi kerumah
kakaknya.
“Boleh saja, tapi saya sedang
menjaga rumah, bisakah kita bertemu dirumah saya saja?” Pintanya.
“Iya tidak apa-apa. Saya sekarang
menuju rumah kamu. Alamatnya dimana ya?” Tanya Rizki sambil menyiapkan alat
tulis hendak mencatat alamat rumah Ima. “Baik terima kasih”. Ucap Rizki sambil
menutup balpoin.
Rizki
langsung menuju rumah Ima. Sesampainya didepan rumah Ima, Rizki kaget saat
melihat motor yang ia tabrak terparkir digarasi rumah Ima.
“Assalamu’alaikum”. Ucap Rizki
sambil mengetuk pintu rumah Ima.
“Wa’alikumsalam”.
Jawab Ima sambil mebuka pintu rumahnya. “Silahkan masuk”. Ajak Ima pada Rizki.
Ima begitu senang karena ada seorang
pemuda tampan yang mengunjungi rumahnya.
“Iya
terimakasih, tapi sepertinya saya tidak lama, karena takut keburu hujan”. Seru
Rizki dengan ekspresi sedikit kecewa karena tidak bisa berlama-lama.
“Oh
begitu, kalau begitu saya ambil memorinya dulu ya.” Seru Ima sambil masuk
kerumahnya.
Diluar Rizki masih melihat-lihat
motor yang terparkir didepan rumah Ima.
“Ini memorinya”. Ucap Ima sambil menyodorkan kantong kresek.
“Ini memorinya”. Ucap Ima sambil menyodorkan kantong kresek.
“Terimakasih
sudah mau mengembalikannya. Ini milik mu”. Ucap Rizki sambil menyodorkan
kantong kresek.
Dengan sengaja Rizki melirik pada motor Ima, Rizki
bertanya. “Apakah motor itu milik mu?” Tanyanya.
“Iya,
memangnya kenapa? Aneh ya spakbornya? sepertinya tadi ada yang menabrak motor
saya saat diparkiran” Ucap Ima.
“Sebenarnya
motor kamu itu tertabrak mobil saya”. Ucap Rizki dengan nada bersalahnya.
“Apa?
Jadi kamu juga menabrak motor saya” Ucap Ima dengan nada kagetnya.
“Mohon
maaf sebelumnya, tapi saya siap untuk memperbaikinya. Bagaimana kalo besok saya
bawa motor kamu ke bengkel.” Tanyanya pada Ima.
“Baik
lah, besok kamu boleh memperbaikinya. Hubungi saja saya besok.”. Ucap Ima pada
Rizki.
“Iya,
kalau begitu. saya pamit pulang”.
Saat
Rizki melangkahkan kakinya, ia berbalik kembali.
“Maaf,
sebelumnya kita belum kenalan. Saya Rizki” Ucapnya sambil menyodorkan tangan
pada Ima.
“Oh
iya, saya Ima”. Ucapnya dengan menyodorkan tangan, hendak berjabat tangan
dengan Rizki.
Rizki pun pergi meninggalkan rumah
Ima. Dijalan Rizki masih terbayang-bayang sikap Ima yang begitu baiknya.
“Ternyata masih ada juga dijaman
ini orang yang jujur untuk mengembalikan barang orang lain”. Gumam Rizki dalam
hati.
***
Ditempat lain, Ima duduk didepan TV,
namun ia masih terbayang-bayang saat Rizki membantunya berdiri, dan saat
bersalaman dengan Rizki.
***
Bagaimana kelanjutan cerita ini?
Apakah mereka berdua saling kagum satu sama lain. Entah lah, yang jelas dari
cerita diatas, kita dapat mengambil banyak hikmah, mulai dari nilai kejujuran,
tanggung jawab, kepedulian, keikhlasan.
dan masih banyak lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar